Tampilkan postingan dengan label Sejarah Minat. Tampilkan semua postingan
Jenis Jenis Manusia Purba Di Indonesia Dan Ciri-cirinya – Tempat Penemuannya, Di Indonesia penelitian tentang jenis-jenis manusia purba sudah sejak abad ke-18 M, dirintis oleh seorang dokter Belanda bernama Eugene Dubois. Mula mula ia mengadakan penelitian di Sumatera Barat namun tidak membuahkan hasil, lalu ia pindah ke Pulau Jawa . Di Pulau Jawa, ia berhasil menemukan fosil manusia purba di desa Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891. Fosil manusia purba ia beri nama pithecanthropus erectus, yang artinya manusia kera yang berjalan tegak
Penemuan fosil selanjutnya pada tahun 1936 oleh Weidenrich. Ia menemukan fosil tengkorak anak di Lembah
Penemuan fosil selanjutnya pada tahun 1936 oleh Weidenrich. Ia menemukan fosil tengkorak anak di Lembah
Sungai Brantas, desa Jetis, Mojokerto. Weidenrich menamakan fosilnya Pithecanthropus Robustus. Fosil sejenis juga ditemukan oleh von Koenigswald di Mojokerto, ia menyebutnya Pithecanthropus Mojokertensis.
Pada penelitian dan penggalian arkeologis antara tahun 1936–1941, von Koenigswald berhasil menemukan fosil manusia purba. Diperkirakan fosil manusia purba itu adalah manusia tertua di Indonesia yang hidup satu sampai dua juta tahun yang lalu. Oleh karena itu para ahli arkeologi menamakannya
Meganthropus Palaeojavanicus, artinya manusia raksasa tertua dari Jawa. Meganthropus Palaeojavanicus hidup sezaman dengan Pithecanthropus Mojokertensis, namun tingkat kehidupannya lebih primitif.
Selanjutnya, ditemukan fosil-fosil manusia purba Indonesia, yang tingkat kemampuannya lebih tinggi dibanding jenis Pithecanthropus, yaitu jenis Homo Sapiens (manusia yang berpikir). Jenis manusia homo sapiens yang ditemukan di Indonesia, antara lain.
![]() |
| Gambar Ilustrasi Evolusi Manusia Purba |
1. Meganthropus (Manusia Besar)
Meganthropus berasal dari dua kata. Megas artinya besar atau raksasa dan anthropus artinya manusia. Jenis manusia purba Meganthropus ditemukan oleh Van Koenigswald pada tahun 1936 di daerah Sangiran. Hasil penemuannya ini sering dikenal dengan nama Meganthropus Palaeojavanicus, artinya manusia raksasa dari Jawa. Jenis manusia ini memiliki rahang kuat dengan badan yang tegap. Mereka diperkirakan hidup dengan cara mengumpulkan bahan makanan, terutama tumbuh-tumbuhan. Meganthropus diperkirakan hidup sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu sejak penelitian.
Meganthropus berasal dari dua kata. Megas artinya besar atau raksasa dan anthropus artinya manusia. Jenis manusia purba Meganthropus ditemukan oleh Van Koenigswald pada tahun 1936 di daerah Sangiran. Hasil penemuannya ini sering dikenal dengan nama Meganthropus Palaeojavanicus, artinya manusia raksasa dari Jawa. Jenis manusia ini memiliki rahang kuat dengan badan yang tegap. Mereka diperkirakan hidup dengan cara mengumpulkan bahan makanan, terutama tumbuh-tumbuhan. Meganthropus diperkirakan hidup sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu sejak penelitian.
Ketika pertama ditemukan, von Koenigswald menyebutnya Meganthropus palaeojavanicuskarena memiliki ciri-ciri yang berbeda dari Pithecanthropus erectus (Homo erectus) yang lebih dulu ditemukan di Sangiran. Selanjutnya fosil serupa juga ditemukan oleh Marks tahun 1952 berupa rahang bawah.
Ciri ciri tubuhnya kekar, rahang dan gerahamnya besar, serta tidak berdagu sehingga menyerupai kera. Meganthropus diperkirakan hidup 2 juta sampai 1 juta tahun yang lalu, pada masa Paleolithikum atau Zaman Batu Tua. Meganthropus memiliki kelebihan pada bentuk tubuhnya yang lebih besar dibandingkan manusia purba lainnya.
2. Pithecanthropus (Manusia Kera Berjalan Tegak)
Jenis Jenis Manusia Purba Di Indonesia – Pithecanthropus merupakan jenis yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Hasil penemuan di Indonesia, antara lain Pithecanthropus Erectus,Pithecanthropus Mojokertensis, dan Pithecanthropus Soloensis. Pithecanthropus Erectus artinya manusia kera yang berjalan tegak. Jenis ini ditemukan oleh Eugene Dubois tahun 1891 di Trinil.Pithecanthropus Mojokertensis ditemukan di Jetis dekat Mojokerto Jawa Timur oleh Von Koenigswald. Pithecanthropus Soloensis sementara itu ditemukan di Ngandong, lembah Bengawan Solo oleh Von Koenigswald, Ter Haar, dan Oppenoorth. Beberapa ciri manusia Pithecanthropus, antara lain sebagai berikut.
Jenis Jenis Manusia Purba Di Indonesia – Pithecanthropus merupakan jenis yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Hasil penemuan di Indonesia, antara lain Pithecanthropus Erectus,Pithecanthropus Mojokertensis, dan Pithecanthropus Soloensis. Pithecanthropus Erectus artinya manusia kera yang berjalan tegak. Jenis ini ditemukan oleh Eugene Dubois tahun 1891 di Trinil.Pithecanthropus Mojokertensis ditemukan di Jetis dekat Mojokerto Jawa Timur oleh Von Koenigswald. Pithecanthropus Soloensis sementara itu ditemukan di Ngandong, lembah Bengawan Solo oleh Von Koenigswald, Ter Haar, dan Oppenoorth. Beberapa ciri manusia Pithecanthropus, antara lain sebagai berikut.
Ciri Ciri Manusia Purba Pithecanthropus :
- Pada tengkorak, tonjolan keningnya tebal.
- Hidungnya lebar, dengan tulang pipi yang kuat dan menonjol.
- Tinggi sekitar 165–180 cm.
- Pemakan tumbuhan dan daging (pemakan segalanya).
- Memiliki rahang bawah yang kuat.
- Memiliki tulang pipi yang tebal.
- Tulang belakang menonjol dan tajam.
- Perawakannya tegap, mempunyai tempat perlekatan otot tengkuk yang besar dan kuat.
3. Homo
Jenis Jenis Manusia Purba Di Indonesia – Ada dua jenis fosil homo yang ditemukan di Indonesia, yaitu Homo Wajakensis dan Homo Soloensis.
Manusi Purba Homo Wajakensis berarti manusia dari Wajak. Eugene Dubois menemukan fosil ini pada tahun 1889 di dekat Wajak, Tulungagung Jawa Timur. Homo Wajakensis diperkirakan menjadi nenek moyang dari ras Australoid yang merupakan penduduk asli Australia.
Manusia Purba Homo Soloensis adalah manusia dari Solo ditemukan di Ngandong, lembah Bengawan Solo antara tahun 1931–1934. Penemunya adalah Ter Haar dan Oppenorth. Kehidupan Homo Soloensis sudah lebih maju dengan berbagai alat untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup dari berbagai ancaman.
Jenis Jenis Manusia Purba Di Indonesia – Ada dua jenis fosil homo yang ditemukan di Indonesia, yaitu Homo Wajakensis dan Homo Soloensis.
Manusi Purba Homo Wajakensis berarti manusia dari Wajak. Eugene Dubois menemukan fosil ini pada tahun 1889 di dekat Wajak, Tulungagung Jawa Timur. Homo Wajakensis diperkirakan menjadi nenek moyang dari ras Australoid yang merupakan penduduk asli Australia.
Manusia Purba Homo Soloensis adalah manusia dari Solo ditemukan di Ngandong, lembah Bengawan Solo antara tahun 1931–1934. Penemunya adalah Ter Haar dan Oppenorth. Kehidupan Homo Soloensis sudah lebih maju dengan berbagai alat untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup dari berbagai ancaman.
Ciri-ciri Manusia Purba homo :
- muka lebar dengan hidung yang lebar;
- mulutnya menonjol;
- dahinya juga masih menonjol, sekalipun tidak seperti jenis Pithecanthropus;
- bentuk fisiknya sudah seperti manusia sekarang;
- tingginya 130–210 cm;
- berat badan 30–150 kg;
- hidupnya sekitar 40.000–25.000 tahun yang lalu.
Homo Soloensis dan Homo Wajakensis kemudian mengalami perkembangan. Jenis homo ini diberi nama Homo Sapiens. Homo Sapiens lebih sempurna dilihat dari cara berpikir walaupun masih sangat sederhana. Homo Sapiens berarti manusia cerdas, diperkirakan hidup 40.000 tahun yang lalu setelah penelitian. Jenis inilah yang nantinya menjadi nenek moyang bangsa Indonesia – sekian Jenis Jenis Manusia Purba Di Indonesia
Manusia Purba
PERADABAN AWAL MASYARAKAT DI DUNIA DAN DI INDONESIA
A. PERADABAN AWAL MASYARAKAT DI DUNIA
1. Peradaban India Kuno
Berdasarkan hasil penggalian yang dilakukan oleh RD Bannerji dan Sir Jhon Marshall tahun 1922 di kota Mohenjodaro dan Harappa ditemukan antara lain:
· Dua buah patung yang coraknya berbeda yaitu:
o Patung laki-laki sebatas dada
o Patung seorang penari
· Terdapat bekas bangunan rumah bertingkat yang sudah beberapa kali mengalami kehancuran (6 – 7 lapis)
· Ditemukan meterai yang berfungsi sebagai hiasan keagamaan dan dianggap mempunyai kesaktian
· Ditemukan patung Dewi Ibu/Dewi Kesuburan
· Bangsa yang mendiami daerah tersebut adalah suku DRAVIDA yang pada tahun 1500 SM diserbu oleh suku bangsa ARYA (Indo Jerman) sehingga suku asli terdesak ke Selatan yaitu dataran tinggi
2. Peradaban Lembah Sungai Kuning (Hoang Ho)
Kepercayaan masyarakatnya adalah Polytheisme (Percaya pada banyak Dewa) seperti: Dewa Angin, Dewa Hujan, Dewa Langit, dewa Bumi, Dewa sungai dsb. Kehidupan masyarakatnya bercocok tanam dengan memanfaatkan aliran sungai Kuning seperti: gandum, padi, jagung, Teh dan kedelai. Karena daerahnya yang subur menjadi pusat perhatian bangsa Asia Tengah (Mongol) sehingga berlaku hukum tantangan dan jawaban.Tantangannya yaitu : Bangsa-bangsa ganas di Asia Tengah selalu memusatkan perhatiannya pada lembah Sungai Kuning yang subur.Jawabannya: Karena serangan yang terus menerus maka kaisar China membangun tembok besar (The Great Wall Of China) panjangnya: 2000 mil, Lebar: 5 meter, dan tingginya: 11 meter.
Pada masa pemerintahan Dinasti Chou hubungan antara daerah satu sama lain belum lancer sehingga tugas pengawasan di daerah diserahkan pada para bangsawan rendahan (Vazal). Untuk membalas kebaikan mereka maka kaisar memberikan pinjaman tanah yang pada akhirnya melahirkan sistem Feodal. Selain itu terdapat ajaran filsafat Kong Hu Chu yang pada prinsipnya adalah pembinaan kehidupan yang selaras dengan alam, keluarga dan leluhur. Ajaran ini lahir karena terjadi pertentangan antara para vazal dan manusia terlena dengan urusan keduaniaan. Juga lahir ajaran Taoisme olehLao-Tze yang mengatakan bahwa ada kekuatan gaib yang mengatur keadilan dan ketertiban di alam semesta yang disebut TAO. Keadilan dan ketenteraman akan tercapai apabila orang akan tunduk pada ajaran TAO.
3. Peradaban Lembah Sungai Tigris dan Eufrat
Wilayahnya sangat subur karena diapit oleh dua sungai besar yaitu Tigris dan Eufrat. Mata pencaharian penduduknya adalah pertanian (Kedelai dan jewawut), Peternakan (domba, lembu dsb) dan perdagangan (antara Laut Tengah, India, Asia Tengah, Teluk Persia dan Laut Merah ). Kepercayaan masyarakatnya Polytheisme, seperti: Dewa Air (Enki), Dewa langit (Anu), Dewa Bumi (Enlil), Dewa Api dan Dewa Kesuburan (Marduk). Khusus untuk Dewa Marduk dibuatkan patung wanita yang menggambarkan dewi kesuburan dan dibuatkan Ziggurat (bangunan dari tanah liat yang dibangun di atas gundukan tanah). Dalam bidang lain mereka mengenal:
· Tulisan Paku pada lempengan batu tentang UU Hammurabbi yang berisi 280 pasal
· Dalam bidang astronomi mengenal khatulistiwa dibagi menjadi 3600 mengenal bintang dan planet
· Mengenal sistem kalender berdasarkan perhitungan bulan
· Mengenal pembagian waktu (jam, menit, detik) dan menghitung dengan satuan 60-an (sixadesimal).
Bangsa yang mendiami daerah ini adalah Bangsa Sumeria lalu di kalahkan oleh suku Amoria dari Indo Jerman dan mendirikan kerajaan Babylonia I dengan Raja Hammurabbi. Tahun 750 SM dikalahkan oleh bangsa Assyria dengan Raja Ashurbanipal. Tahun 612 SM bangsa Assyria dikalahkan oleh bangsa Kaldea yang membangun kerajaan Babylonia II dengan Raja Nebukadnezar. Tahun 536 SM menjadi rebutan bangsa Media dan Persia yang dimenangkan oleh Persia. Persia memerintah di atas wilayah Mesopotamia yang subur dengan raja pertama R Cyrus (550 SM) dilanjutkan oleh Darius Agung (521-485 SM).
4. Peradaban Lembah Sungai Nil
Corak kehidupan masyarakatnya agraris dengan hasil utamanya adalah gandum dan kapas. Kepercayaan masyarakatnya adalah Polytheisme seperti Dewa RA (matahari), Dewa Bulan (Amon) lalu disatukan menjadi dewa AMONRA. Untuk memuja dewa ini dibuatkan Obelisk (Tugu batu runcing berbentuk segitiga yang dihiasi dengan tulisan gambar) juga percaya pada dewa Thot (pengetahuan), dewa Anubis (kematian), Osiris (pengadilan), Issis (dewa Sungai Nil), Dewa Apis berbentuk Sapi, Dewa Ibis berbentuk burung. Mereka juga percaya pada roh-roh leluhur yang akan mengubah bentuk pemakaman menjadi pengawetan mayat (MUMMIA) yang disimpan dalam Pyramida. Dalam Pyramida terdapat patung singa berkepala manusia(Sphinx).
Dalam bidang lain , selain pengawetan mayat juga mengenal penguburan mayat dengan cara jongkok, mengenal tulisan gambar, mengenal ilmu perbintangan dan sistem kalender. Dalam bidang pemerintahan dipimpin oleh Fir’aun (Pharaos) yang dipuja sebagai Tuhan. Rakyat harus taat dalam membayar pajak dan wajib kerja untuk pengabdian terhadap Fir’aun. Namun pada akhirnya Fir’aun dianggap sebagai manusia biasa dan kepercayaan mereka monotheisme dengan dewa Matahari sebagai dewa yang tunggal.
B. Peradaban Awal Masyarakat di Indonesia
Kehidupan masyarakat Indonesia berawal dari kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. Pada masa ini masyarakat hanya mengandalkan apa yang telah tersedia di dalam hutan. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 10-15 orang. Kebudayaan yang mereka miliki seperti kapak parimbas, kapak penetak, kapak genggam, alat-alat tulang dan lain sebagainya. Masyarakat pada masa berburu dan mengumpulkan makanan telah mengenal kepercayaan. Hal ini dibuktikan dengan adnya upaya penguburan orang yang telah meninggal.
Pada masa beternak dan bercocok tanam, kehidupan masyarakat semakin bertambah maju, karena mereka telah dapat mengolah alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan mereka telah memiliki tempat tinggal untuk menetap. Kelompok mereka semakin bertambah besar dan pola hidup bergoting royong menjadi inti dari kehidupan sosil masyarakatnya. Pada masa ini mereka telah mengenal sistim perekonomian, walaupun dilakukan melalui pertukaran barang dengan barang (barter).
Kepercayaan mereka semakin berkembang bahkan mereka telah mengenal kepercayaan yang bersifat animism dan dinamisme. Kebudayaannya terbuat dari batu seperti beliung persegi, kapak lonjong, mata panah dari batu, gerabah dan lain sebagainya. Mereka juga telah mengenal perhiasan yang terbuat dari batu.
Perkembangan teknologi dalam kehidupan masyarakat Indonesia diawali dengan penemuan logam yang dipergunakan untuk membuat berbagai bentuk peralatan dan perhiasan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, pada masa ini tidak semua anggota masyarakat dapat membuat benda-benda dari logam, melainkan hanya beberapa orang yang memiliki keahlian dalam membuatnya. Orang yang ahli ini dikenal dengan sebutan undagi dan tempat pembuatannya disebut dengan perundagian. Oleh karena itu, pada masa ini masyarakat telah mengalami perkembangan yang cukup maju. Hasil kebudayaan yang berasal dari logam seperti nekara, kapak perunggu, bejana perunggu, araca perunggu, perhiasan dari perunggu dan lain sebaganiya.
Peradaban Dunia
Penelitian Sejarah
.jpg)
Menurut Thomas Jefferson, dalam penulisan sejarah:
"Penelitian sejarah adalah salah satu penelitian mengenai pengumpulan dan evaluasi data secara sistematik, berkaitan dengan kejadian masa lalu untuk menguji hipotesis yang berhubungan dengan faktor-faktor penyebab, pengaruh atau perkembangan kejadian sekarang dan mengantisipasi kejadian yang akan datang (Sukardi, 2003, hal. 203). Menurut (Sjamsuddin, 2007, hal. 13) penelitian sejarah berhubungan dengan suatu prosedur, proses, atau teknik yang sistematis dalam penyidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk mendapatkan objek (bahan-bahan) yang akan diteliti (Sjamsuddin, 2007, hal. 13)".
Menurut Sjamsuddin (2007, hal. 89) paling tidak ada enam tahap yang harus ditempuh dalam penelitian sejarah yaitu:
- Memilih topik yang sesuai
- Mengusut semua evidensi (bukti) yang relevan dengan topik
- Membuat catatan tentang apa saja yang dianggap penting dan relevan dengan topik yang ditemukan ketika penelitian sedang berlangsung dengan membuat system card, fotokopi, komputer dan internet.
- Mengevaluasi secara kritis semua bukti yang telah dikumpulkan (kritik sumber)
- Menyusun hasil-hasil penelitian (catatan fakta-fakta) ke dalam suatu pola yang benar dan berarti yaitu sistematika tertentu yang telah disajikan sebelumnya.
- Menyajikannya dalam suatu cara yang menarik perhatian dan mengkomunikasikannya kepada para pembaca sehingga dapat dimengerti sejelas mungkin.
Penelitian sejarah pada dasarnya adalah penelitian terhadap sumber-sumber sejarah, merupakan implementasi dari tahapan kegiatan yang tercakup dalam metode sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Tahapan historiografi merupakan kegiatan penulisan hasil penelitian. Gambar berikut menggambarkan metode Sejarah sebagai berikut:

Gambar Metode Penelitian Sejarah
Sumber: (Sjamsuddin, 2007, hal. 17)
A. Heuristik
Heuristik adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Berhasil tidaknya pencarian sumber, pada dasarnya tergantung dari wawasan peneliti mengenai sumber yang diperlukan dan keterampilan teknis penelusuran sumber (Sobana Hs, 2008, hal. 4). Menurut Carrard (1992) dan Gee (1950) dalam(Sjamsuddin, 2007, hal. 86) heuristik (heuristics) merupakan sebuah kegiatan mencari sumber-sumber untuk mendapatkan data-data/materi sejarah/evidensi sejarah. Tahap heuristik ini banyak menyita waktu, biaya, tenaga, pikiran dan perasaan karena apabila kita mendapatkan yang dicari maka serasa mendapatkan harta karun, sementara jika sudah bersusah payah mencari sumber tetapi tidak berhasil maka rasa frustasi akan muncul.
Sumber-sumber sejarah dapat ditemukan di perpustakaan, arsip dan museum, dimana kekayaan perpustakaan, arsip dan museum dapat diketahui dari petunjuk-petunjuk, indeks, bibliografi, katalog, majalah, dan jurnal serta brosur yang meminformasikan kepada sejarawan, peneliti, pengunjung apa saja yang tersedia dalam perpustakaan, arsip atau museum itu yang berhubungan dengan literatur atau dokumen sejarah. Pengetahuan praktis mengenai petunjuk-petunjuk atau indeks-indeks ini dan bagaimana menggunakan perpustakaan dan arsip adalah syarat mutlak bagi penelitian sejarah. Pengetahuan tersebut muncul biasanya selama proses pengumpulan materi itu berlangsung (Sjamsuddin, 2007, hal. 121).

Gambar Gedung Arsip Nasional
Sumber: http://www.gedoor.com/2012/04/arsip-nasional-republik-indonesia/

Gambar Koleksi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Sumber: http://www.pnri.go.id/
B. Kritik
Kritik adalah sebuah kegiatan pengujian secara kritis terhadap sumber-sumber sejarah yang telah ditemukan, untuk memperoleh otentisitas dan dan kredibilitas. Tujuan utama kritik sumber adalah untuk menyeleksi data, sehingga diperoleh fakta. Setiap data sebaiknya dicatat dalam lembaran lepas (sistem kartu), agar memudahkan pengklasifikasiannya berdasarkan kerangka tulisan. Kritik sumber dilakukan setelah peneliti berhasil mengumpulkan sumber-sumber dalam penelitiannya dan tidak menerima begitu saja apa yang tercantum dan tertulis pada sumber-sumber tersebut dan menyaringnya secara kritis terutama sumber pertama (Sjamsuddin, 2007, hal. 131). Kritik sumber dilakukan dilakukan baik terhadap bahan materi maupun terhadap substansi (isi) sumber.
Dalam metode sejarah dikenal dengan cara melakukan kritik eksternal dan kritik internal.
1. Kritik eksternal
Kritik eksternal adalah cara melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek luar dari sumber sejarah (Sjamsuddin, 2007, hal. 132). Sebelum sumber-sumber sejarah dapat digunakan dengan aman, menurut Lucey (1984) ada lima pertanyaan yang harus dijawab dengan memuaskan (Sjamsuddin, 2007, hal. 133) yaitu:
- Siapa yang mengatakan?
- Apakah kesaksian tersebut telah diubah?
- Apa yang dimaksud sumber dengan kesaksiannya?
- Apakah orang yang memberikan kesaksian itu seorang saksi mata (witness) yang kompeten (mengetahui fakta yang sebenarnya)
- Apakah saksi mengatakan fakta yang sebenarnya (truth) dan memberikan fakta yang diketahui?

Gambar Sumber Sejarah yang Berasal dari Surat Kabar
Sumber: http://saefulhistory-sejarah-saefulhistory.blogspot.com/2012/02/c-prinsip-prinsip-dasar-penelitian.html
Fungsi kritik eksternal adalah memeriksa sumber sejarah atas dasar dua hal pertama dan menegakkan sedapat mungkin otentisitas dan integritas dari sumber tersebut. Kritik eksternal juga harus memperhatikan otentisitas (authenticity), deteksi sumber palsu, integritas dan penyuntingan. Sebuah sumber sejarah (catatan harian, surat, buku) adalah otentik atau asli jika itu benar-benar produk dari orang yang dianggap sebagai pemiliknya (atau dari periode yang dipercayai sebagai masanya jika tidak mungkin menandai pengarangnya).
Langkah yang dilakukan dalam menegakkan otentisitas adalah mengidentifikasi penulis. Kadang-kadang penulis tidak dapat ditandai karena banyak dokumen dan penerbitan pertama-tama muncul tidak menggunakan nama samaran dan penelitian kemudian dapat saja berhasil mengidentifikasi beberapa penulisnya. Belum ada aturan yang benar-benar baku untuk memutuskan berapa banyak yang harus dibuktikan sebelum sebuah sumber dapat diterima sebagai sesuatu yang asli, namun semakin banyak yang diketahui tentang dokumen tersebut, semakin banyak pula yang dapat digunakan oleh peneliti dari sumber tersebut (Sjamsuddin, 2007, hal. 134-137).
Keahlian dalam mendeteksi sumber asli diperlukan mengingat kecanggihan teknologi modern yang memudahkan para pemalsu dokumen untuk melakukan operasinya. Banyak dokumen rahasia negara terutama yang sedang konflik dijajakan oleh para pemalsu kepada pihak yang berkepentingan dikatakan asli padahal palsu (Sjamsuddin, 2007, hal. 137). Dalam mendeteksi sumber maka haru diperhatikan kriteria fisik (jenis kertas, tinta, cat), garis asal usul dokumen, tulisan tangan, dan isi dari sumber.
Setelah mendeteksi sumber maka selanjutnya harus diketahui integritasnya. Integritas disini dapat diartikan bahwa sumber mempunyai otentisitas yang tetap jika kesaksian yang asli tetap terpelihara tanpa ubah-ubahan mensikipun ditransmisikan dari masa ke masa (Sjamsuddin, 2007, hal. 140). Ubahan dapat berupa penambahan, pengurangan, penghilangan atau penggantian dalam teks asli dan ini mungkin saja disengaja atau tidak disengaja dalam sumber asli atau dalam salinan aslinya. Ubahan yang sering terjadi diakibatkan oleh kekeliruan dalam menyalin sehingga secara substansional dapat mengubah arti sebuah teks. Untuk mencegah kekeliruan tersebut perlu dilakukan kolasi yaitu membandingkan manuskrip asli dengan salinan oleh seseorang yang membaca naskah asli dan sejarawan mengikuti naskah salinannya. Jika integritasnya terjaga maka dapat dikatakan fakta dari kesaksian (fact of testimony) telah ditegakkan bagi sejarawan (Lucey dalam Sjamsuddin, 2007, hal. 140)).
Dokumen yang diedit secara sembarangan dapat merusak banyak sumber sejarah. Dokumen memang harus diedit sebagaimana aslinya dan jika ada perubahan, penyunting harus memberitahukan pembacanya. Aplikasi dari aturan-aturan sederhana ini menuntut kerajinan yang diteliti dan penyunting dapat menggunakan tanda-tanda tertentu dalam mengoreksi kesalahan ejaan, istilah, ataupun nama yang dibuat oleh penulis asli (Sjamsuddin, 2007, hal. 143).
2. Kritik Internal
Kritik internal merupakan kebalikan dari kritik eksternal dengan menekankan aspek dalam yaitu isi dari sumber, yaitu kesaksian (testimony) (Sjamsuddin, 2007, hal. 143). Setelah fakta kesaksian ditegakkan melalu kritik eksternal, tiba giliran sejarawan untuk mengadakan evaluasi terhadap kesaksian tersebut apakah reliable atau tidak. Hal yang perlu diperhatikan dari kritik internal adalah:

Gambar Saksi Sejarah Perjuangan Front Bandung Timur R.J. Rusady W.
http://www.antarafoto.com/spektrum/v1290916201/kesaksian-veteran
a. Arti sebenarnya dari kesaksian
Sejarawan harus menetapkan arti sebenarnya dari perkataan yang dikemukakan oleh saksi apakah diartikan harfiah atau sesungguhnya (real) . Arti harfiah adalah pengertian gramatikal yang berarti menurut huruf yang tertulis. Sementara arti yang sesungguhnya adalah arti yang tersirat dari balik huruf yang ditulis. Mungkin dalam sebuah tulisan sejarah sumber tersebut menggunakan kalimat metafora sehingga peneliti harus tahu arti yang sesungguhnya.
b. Kredibilitas kesaksian.
Kredibilitas (keterpercayaan) seorang saksi harus memperhatikan bagaimana kemampuan saksi untuk mengamati, bagaimana kesempatannya untuk mengamati teruji dengan benar atau tepat, bagaimana jaminan bagi kejujurannya, bagaimana kesaksiannya itu dibandingkan dengan saksi-saksi yang lain. Dalam membandingkan satu sumber dengan sumber-sumber lain untuk kredibilitas, terdapat tiga kemungkinan yaitu sumber-sumber lain dapat cocok dengan sumber yang dibandingkan, berbeda dengan sumber atau malah tidak menyebutkan apa-apa (Sjamsuddin, 2007, hal. 151-152)
c. Sumber-sumber yang sesuai (concurring sources)
Sumber dikatakan kredibel apabila sumber yang lain sesuai dengan kesaksiannya baik secara independen maupun dependen. Penyesuaian kesaksian dari saksi independen dan dapat dipercaya yang dapat menegakkan kredibilitas suatu sumber tertentu.
d. Sumber-sumber yang berbeda (disseting sources).
Perbedaan kesaksian sumber lain terhadap satu sumber tidak begitu saja dapat membatalkan kesaksian dari sumber yang dibicarakan. Tetapi tergantung dari tingkat perbedaannya. Pada beberapa kondisi tertentu perbedaan sudah dapat diperkirakan namun kembali kepada kecerdasan peneliti dalam menghadapi perbedaan tersebut dan komplikasi-komplikasi yang muncul akibat perbedaan sehingga dapat ditemukan juga benang merahnya.
C. Historiografi
Sesudah menyelesaikan langkah-langkah pertama dan kedua berupa heurestik dan kritik sumber, maka langkah selanjutnya adalah menghasilkan karya historiografi yang merupakan penafsiran dan pengelompokkan fakta-fakta dalam berbagai hubungan juga membuat formulasi serta presentasi hasil-hasilnya sehingga akan menggamparkan operasi-operasi sintetis yang menuntun dari kritik dokumen kepada penulisan teks yang sesungguhnya (Sjamsuddin, 2007, hal. 155). Tahap-tahap penulisan mencakup interprestasi, eksplanasi sampai kepada presentasi atau pemaparan sejarah sebenarnya yang merupakan satu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
1. Penafsiran (Interpretasi)
Proses penulisan dilakukan karena ingin mencipta ulang dengan deskripsi dan narasi serta melakukan penafsiran (interpret) dengan menggunakan analisa dan berolritasi kepada problem. Teknik analisis deskripsi narasi sering kali dikaitkan dengan bentuk atau model sejarah lama, sedangkan teknik analisis dikaitkan dengan bentuk atau model sejarah baru yang ilmiah (Sjamsuddin, 2007, hal. 158).
2. Penjelasan (Eksplanasi)
Dalam setiap pembahasan mengenai metodologi sejarah, penjelasan merupakan satu pusat utama yang menjadi sorotan. Penjelasan menurut D.H. Fischer berarti membuat terang, jelas dan dapat dimengerti dengan menggunakan: what (apa), how (bagaimana), when (kapan), where (dimana) dan who (siapa) (Sjamsuddin, 2007, hal. 190). Seringkali eksplanasi disamakan dengan deskripsi padahal sebenarnya keduanya dapat dibedakan. Deskripsi hanya penyebutan fakta saja, sementara penjelasan menuntut jawaban yang analitis-kritis yang akhirnya bermuara pada suatu penjelasan atau keterangan sintesis sejarah. Sejarah yang sebenarnya adalah jika dapat menjelaskan atau memberikan jawaban tentang why (mengapa). Jadi bukan sekedar what, when, where dan who tapi lebih kepada why-what, why-when, why-where dan why-who. Sebagai contoh misalnya fakta sejarah mengenai Proklamasi Kemerdekaan yang diucapkan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10 pagi oleh Ir. Sukarno. Dalam deskripsi, peneliti cukup menjawab apa (Proklamasi Kemerdekaan), kapan (tanggal 17 Agustus 1945 jam 10), dimana (Jakarta) dan siapa (Ir. Sukarno). Tetapi dalam eksplanasi harus dapat menjawab, mengapa Proklamasi Kemerdekaaan diucapkan (why-what), mengapa Sukarno yang mengucapkan bukan Hatta (why-who), mengapa tanggal 17 Agustus 1945 bukan tanggal yang lainnya (why-when), dan mengapa di Jakarta bukan kota-kota lain di Indonesia (why-where). Jadi semuanya menuntut keterangan, penjelasan yang kalau ditulis dapat menghasilkan buku yang tebal bukan hanya sekedar jawaban faktual (Sjamsuddin, 2007, hal. 191-192).
Tetapi tanpa deskripsi faktual mustahil dapat membuat sebuah eksplanasi sejarah sebab eksplanasi tanpa fakta adalh fantasi. Hubungan antara keduanya adalah hubungan yang saling melengkapi dan tidak dapat berdiri sendiri. Seperti mobil dengan bahan-bahan pembuat mobil. Tidak akan ada mobil (eksplanasi) kalau tidak ada bahan-bahan pembuatnya seperti mesin, kaca, baja, ban, jok dan sebagainya (deskripsi fakta). Dalam bentuk yang paling sederhana, dengan merangkaikan komponen-komponen itu dalam suatu sintesis akan menghsilkan suatu penjelasan mengapa dan/atau bagaimana peristiwa sejarah terjadi (Sjamsuddin, 2007, hal. 193).
Terdapat beberapa model penjelasan sejarah seperti yang terlihat pada tabel

Gambar model penjelasan sejarah
Sumber: (Sjamsuddin, 2007, hal. 190-235)
2. Penyajian (Ekspose)
Dalam penulisan sejarah, wujud dari penulisan itu merupakan paparan, penyajian dan presentasi yang sampai kepada dan dibaca oleh para pembaca dan pemerhati sejarah. Paling tidak secara bersamaan digunakan tiga bentuk teknik dasar menulis yaitu deskripsi, narasi dan analisis. Sehubungan dengan hal tersebut maka penyajian sejarah dapat dilakun dengan tiga cara yaitu deskriptif naratif, sejarah analitis-kritis dan gabungan deskriptif-naratif dan analitis kritis (Sjamsuddin, 2007, hal. 236-238).
Sejarah yang bersifat naratif mempunyai beberapa sebutan seperti sejarah populer dan sejarah peristiwa karena terlalu menyandarkan diri kepada peristiwa-peristiwa atau sejarah lama dimana sejarawan dianggap sebagai narator yang ditulis pada bagian luarnya saja dan tidak memiliki arti. Penyajian sejarah yang bersifat analitis kritis dianggap sebagai sejarah akademik dengan orientasinya pada problema dan struktur. Pemaparan untuk jenis ini umumnya terdapat pada karya tulis ilmiah sepeti tesis dan disertasi. Namun cara ini dianggap terlalu kaku dan tidak historis. Sementara gabungan deskriptif naratif dan analitis kritis merupakan proses integrasi peristiwa yang naratif dengan struktur yang analitis.
Sumber :
docs.google.com
Referensi :
Gottschalk, L. (1986). Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Kuntowijoyo. (1995). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Miftahuddin. (t.thn.). Menjadi Peneliti Sejarah. Dipetik Mei 18, 2013, dari staff uny website: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/miftahuddin-mhum/menulis-sejarah.pdf
Moleong, L. J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Sobana Hs, A. (2008, Februari 12-14). Metode Penelitian Sejarah. Materi "Workshop Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan: Penulisan Karya Ilmiah dan Perekaman Data, hal. 1-17.
Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan. (2009). Jakarta.
Penelitian Sejarah dan Historiografi
Definisi sejarah sebagai peristiwa, ilmu, kisah, dan seni beserta contohnya
Definisi Sejarah Sebagai Peristiwa, Ilmu, Kisah, dan Seni beserta Contohnya
Sejarah yaitu kejadian yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan peninggalan berbagai perisitiwa. Namun, tidak semua kejadian pada masa lampau bisa disebut sejarah, karena sejarah juga memiliki sifat dan ciri ciri tertentu yang membedakan sejarah dengan kejadian masa lalu.
1. UNIK, yaitu sejarah berbeda dengan peristiwa lain, tidak bersifat umum, hanya terjadi sekali, kalaupun terulang maka tidak akan sama seperti peristiwa sejarah aslinya.
2. ABADI, yaitu peristiwa sejarah akan selalu diingat sepanjang masa oleh rakyat indonesia dan tidak akan berubah.
3. PENTING, yaitu sejarah penting diketahui oleh semua orang karena memiliki manfaat yang dapat mengubah seseorang itu sendiri. contoh, seseorang dapat mengetahui kekurangan dan kelebihannya karena mengetahui sejarahnya.
4. OBJEKTIF, yaitu peristiwa sejarah di masa lampau berdasarkan fakta yang terjadi sebagaimana adanya dan tidak ada penambahan ataupun pengurangan cerita.
Sejarah dapat bersifat sebagai peristiwa, kisah, ilmu, dan seni karena memiliki Sifat / Karakteristik tertentu. Berikut ini penjelasan secara singkat Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni lebih lanjut.
Sejarah yaitu kejadian yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan peninggalan berbagai perisitiwa. Namun, tidak semua kejadian pada masa lampau bisa disebut sejarah, karena sejarah juga memiliki sifat dan ciri ciri tertentu yang membedakan sejarah dengan kejadian masa lalu.
Ciri-ciri Peristiwa dapat dikatakan Sejarah yaitu:
1. UNIK, yaitu sejarah berbeda dengan peristiwa lain, tidak bersifat umum, hanya terjadi sekali, kalaupun terulang maka tidak akan sama seperti peristiwa sejarah aslinya.
2. ABADI, yaitu peristiwa sejarah akan selalu diingat sepanjang masa oleh rakyat indonesia dan tidak akan berubah.
3. PENTING, yaitu sejarah penting diketahui oleh semua orang karena memiliki manfaat yang dapat mengubah seseorang itu sendiri. contoh, seseorang dapat mengetahui kekurangan dan kelebihannya karena mengetahui sejarahnya.
4. OBJEKTIF, yaitu peristiwa sejarah di masa lampau berdasarkan fakta yang terjadi sebagaimana adanya dan tidak ada penambahan ataupun pengurangan cerita.
Sejarah dapat bersifat sebagai peristiwa, kisah, ilmu, dan seni karena memiliki Sifat / Karakteristik tertentu. Berikut ini penjelasan secara singkat Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni lebih lanjut.
A. Definisi Sejarah Sebagai Peristiwa
Sejarah sebagai perisitiwa yaitu suatu kejadian pada masa lampau yang benar benar terjadi dan berdasarkan fakta dan bukti yang jelas. Sejarah sebagaimana terjadi nya itulah yang dinamakan sejarah sebagai peristiwa.Dari peristiwa-peristiwa itu, dapat diketahui sebab akibat terjadinya suatu peristiwa. Tanpa memandang besar kecilnya suatu peristiwa atau kejadian-kejadian dalam ruang lingkup kehidupan manusia, ilmu sejarah berusaha menyusun rangkaian peristiwa yang terjadi dalam ruang lingkup kehidupan manusia sejak dahulu sampai sekarang, bahkan prediksi kejadian yang akan datang.
Sejarah sebagai peristiwa memiliki Sifat / Karakteristik, yaitu:
1. Objektif, yaitu sejarah berdasarkan hasil kumulatif / gabungan dari beberapa pendapat para sejarawan yang bersifat fakta dan berdasarkan bukti yang jelas.
2. Empiris, yaitu berdasarkan data yang sebenarnya
contoh:
1. Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI yaitu pada saat Presiden Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agusutus 1945.
2. Peristiwa Rengasdengklok yaitu peristiwa diculiknya Ir.Soekarno dan Drs.Moh.Hatta oleh golongan muda karena perbedaan pendapat antara golongan muda dan golongan tua.
B. Definsi Sejarah Sebagai Ilmu
Sejarah sebagai ilmu yaitu sejarah yang disusun secara sistematis dengan metode secara ilmiah dan bersifat pengetahuan yang penting serta bermanfaat bagi semua orang.
Menurut C.E. Berry, sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan, tidak kurang dan tidak lebih. Adapun menurut York Powell, sejarah bukanlah hanya sekadar suatu cerita indah, instruktif, dan mengasyikkan, tetapi merupakan cabang ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan harus dibuktikan secara keilmuan dengan menggunakan metode-metode dan berbagai standar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
1. Empiris, yaitu dengan fakta dan bukti yang jelas dan kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan
2. Objektifitas, yaitu manusia yang berperan dan terlibat dalam sejarah
3. Teoritis, yaitu pendapat para sejarawan untuk menjelaskan suatu kejadian
4. Generalisasi, yaitu para sejarawan menyimpulkan suatu kejadian berdasarkan pemikiran yang rasional
5. Metode, yaitu cara yang disusun sistematis untuk mempermudah suatu masalah
1.Teori Terbentuknya Benua, yaitu dulu Benua masih menjadi satu yang dinamakan Pangea dan memisahkan diri membentuk benua seperti sekarang.
2. Teori terbentuknya Bumi dan Alam Semesta yaitu, menurut pendapat ahli, bumi dan alam semesta terbentuk karena suatu ledakan besar yang dinamakan Teori Big Bang.

C. Definisi Sejarah Sebagai Kisah
Sejarah sebagai kisah adalah sejarah yang direkonstruksi atau diceritakan kembali berdasarkan penafsiran atau ingatan seseorang. Sejarah sebagai kisah juga merupakan pendapat masing-masing para sejarawan yang masih utuh dan belum disimpulkan menjadi satu.
Semua hasil karya cipta manusia merupakan suatu bukti dari kisah manusia yang hidup dan dinamis. Membicarakan sejarah sebagai kisah tidak lepas dari peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lampau.
Sejarah sebagai kisah juga memiliki Sifat / Karakteristik, antara lain:
1. Subjektif, yaitu berdasarkan ingatan masa lalu seseorang / pendapat masing-masing seseorang.
2. Sarana untuk mengungkapkan kembali sejarah
1. Kisah Pangeran Diponegoro melawan Kolonialisme Belanda, yaitu sering juga disebut Perang Diponegoro.

2. Kisah Perang Dunia, yaitu dulu pernah terjadi perang yang melibatkan seluruh dunia (kecuali Thailand) untuk memperebutkan kekuasaan
D. Definisi Sejarah Sebagai Seni
Sejarah sebagai seni yaitu sejarah dengan menambahkan unsur seni dan imajinasi untuk memperindah tulisan dan membuat para pembaca sejarah menjadi tertarik dengan isi sejarah tersebut.
Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan. Ia menyatakan bahwa menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah, karena memerlukan imajinasi dan seni.
Dithley menambahkan bahwa pemahaman dengan cara imajinatif mampu menjadikan fakta sejarah lebih hidup dan lebih berarti. Itulah sebabnya, menurut George Macauly Travelyan dalam penulisan kisah sejarah harus menggunakan bahasa yang indah, komunikatif, menarik, dan isinya mudah dimengerti.
Sejarah Sebagai Seni memiliki Sifat / Karakteristik:
1. Intuisi, yaitu mengetahui secara langsung kejadian sejarah
2. Imanjinasi, yaitu sejarawan harus bisa menggambarkan / membayangkan peristiwa sejarah yang terjadi
3. Emosi, yaitu luapan perasaan sejarawan untuk menghadirkan peristiwa sejarah yang seolah-olah dapat dirasakan dan terjadi
4. Gaya bahasa, yaitu bahasa kiasan yang dipakai sejarawan untuk memperindah tulisan sejarah
1. Intuisi, yaitu mengetahui secara langsung kejadian sejarah
2. Imanjinasi, yaitu sejarawan harus bisa menggambarkan / membayangkan peristiwa sejarah yang terjadi
3. Emosi, yaitu luapan perasaan sejarawan untuk menghadirkan peristiwa sejarah yang seolah-olah dapat dirasakan dan terjadi
4. Gaya bahasa, yaitu bahasa kiasan yang dipakai sejarawan untuk memperindah tulisan sejarah
1. Seni pahat / relief di Candi Borobudur, yaitu ukiran indah yang berbentuk patung dalam dinding

Sejarah Sebagai Ilmu
Manusia dan Sejarah Kelas X BAB 1
Tahukah kalian bahwa manusia dan sejarah itu saling berkaitan satu sama lain ? Manusia,ruang, dan waktu adalah objek utama dalam sejarah, apakah kalian tau itu ? Bila diantara kalian belum ada yang tau akan hal itu, maka simak lah ulasan dari blog ini yang akan membahas tentang manusia dan sejarah, cekidot :D
Sejarah menurut beberapa negara mempunyai nama dan arti yang berbeda. Berikut adalah sejarah menurut beberapa negara :
Dari Arab dinamakan Syajaratun yang mempunyai arti "Pohon"
Dari Inggris dinamakan History yang mempunyai arti "Masa Lampau"
Dari Yunani dinamakan Historia yang mempunyai arti "Orang Pandai" atau "Belajar"
Dari Belanda dinamakan Genchildenis yang mempunyai arti "Terjadi"
Dari Germany dinamakan Gischichte yang mempunyai arti "Sesuatu Yang Telah Terjadi"
Saya ga akan membahas secara detail tentang arti-arti sejarah menurut beberapa negara, karena biasanya di soal-soal ujian hanya akan membahas arti atau nama dari suatu negara.
Pengertian sejarah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang memberikan penjelasan tentang sejarah secara umum, cekidot :
1). Asal usul, keturunan, dan istilah
2). Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang lampau, hikayat, dan tambo
3). Pengetahuan atau uraian tentang kejadian dan peristiwa yang benar terjadi pada masa yang lampau.
Definisi sejarah yang sudah diringkas dari para ahli adalah "Sejarah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai peristiwa atau kejadian penting dalam kehidupan manusia pada masa yang telah lampau"
Secara garis besar pandangan-pandangan tentang gerak sejarah sejak zaman Yunani Kuno sampai sekarang ini ada beberapa macam, untuk lebih jelasnya simak penjelasan dibawah ini :
1). Hukum Fatum
Menurut hukum fatum (nasib), nasib atau hukum alam adalah kekuatan tunggal yang menentukan gerak sejarah. Manusia hanya mengikuti hukum alam tapi tidak menentukan arah dan gerak sejarah. Jadi sekiranya hukum fatum itu adalah hukum alam. Menurut hukum fatum, cara hidup yang baik adalah mengikuti hukum alam (amor fati) dengan hidup sesuai hukum alam, manusia terhindar dari kecemasan, ketakutan, dan penderitaan. Pandangan hukum fatum ini mengisyaratkan 3 hal, yaitu :
a). Sejarah manusia tidak mempunyai arah atau tujuan tertentu karena manusia itu pasif dan hanya menjalankan nasibnya serta manusia dianggap tidak memiliki harapan, cita-cita, atau tujuan hidup.
b). Sebagaimana benda langit mengikuti siklus atau perputaran tertentu (selalu berulang), demikian juga gerak sejarah manusia akan selalu berulang. Hukum alamlah yang membuat peristiwa berulang (l'histoire se repete).
c). Karena selalu terulang, itu juga berarti tidak ada yang baru dan tidak ada yang berubah dalam sejarah manusia. Gerak sejarah tanpa tujuan dan selalu berulang disebut gerak sejarah siklisatau gerak sejarah melingkar.
2). Pandangan Renaisans dan zaman Pencerahan
Menurut pandangan ini, manusia adalah penggerak sejarah, yang bertujuan mewujudkan perubahan dan kemajuan. Para pemikir Renaisans yang dipelopori kaum humanis ini percaya bahwa rasio dapat melakukan segalanya dan lebih penting daripada iman akan tuhan. Selain percaya akan kemampuan intelektual, kaum humanis juga menekankan pentingnya perubahan-perubahan sosial, politis, dan ekonomis. Pandangan bahwa sejarah manusia di dunia ini penting dan rasio manusia menentukan gerak sejarah dan nasibnya sendiri mencapai puncaknya pada abad ke-18 di Eropa, pada zaman yang disebut Zaman Pencerahan atau Aufklarung (tahun 1650-1700).
Semboyan "Sapere Aude" yang berarti Beranilah Berpikir Sendiri! menjadi semboyan yang terkenal pada zaman ini. Kebahagiaan dan kemajuan manusia adalah tujuan gerak sejarah, dan manusia aktif mewujudkan tujuan itu. Gerak sejarah menuju kemajuan dan kesempurnaan manusia yang sering disebut gerak sejarah linear. Gerak sejarah linear sulit dibedakan dengan gerak sejarah spiral karena mengandung makna yang sama, yaitu bahwa gerak sejarah adalah gerak perubahan terus-menerus dari keadaan yang kurang sempurna dalam hidup manusia. Contoh gerak sejarah linear atau spiral :
Berburu dan meramu tingkat sederhana => Berburu dan meramu tingkat lanjut => Bercocok tanam => Perundagian.
3). Pandangan Ibnu Khaldun
Pendapat Ibnu Khaldun yang seorang filsuf besar dari Arab, yaitu :
a). Tujuan sejarah manusia adalah terpenuhinya harapan dan cita-cita manusia di dunia ini, atau singkatnya kemajuan dan perkembangan hidupnya.
b). Dengan demikian, manusia adalah penggerak sejarah, akal budi manusia yang dianugerahkan Tuhan memungkinkan manusia merencanakan dan menggerakkan sejarah demi perubahan, kemajuan dan perkembangan hidupnya.
Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhluk yang otonom, artinya dianugerahi kebebasan untuk menentukan arah dan perjalanan hidupnya sendiri. Kebalikannya, heteronom artinya perjalanan hidup manusia dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari luar dirinya (determanistik), yaitu alam sekitar dengan segala isinya ataupun kekuatan lain seperti kekuasaan Tuhan.
4) Pandangan Materialisme-Historis
Pandangan yang merupakan inti dari aliran Marxisme menyatakan bahwa sejarah manusia itu digerakkan oleh pertentangan antara kaum Proletariat (kaum buruh) yang tidak memiliki sarana-sarana produksi (tanah, mesin, modal) dan kelas kapitalis yang menggunakan sarana produksi. Pertentangan itu dimenangkan oleh kaum Proletariat, yang ditandai dengan dihapusnya kepemilikan pribadi atas sarana-sarana produksi dan terciptanya masyarakat tanpa kelas.
Manusia dalam Konsep Ruang dan Waktu dalam Sejarah
Perjuangan ke arah kemajuan dan kesempurnaan itu disebut sebuah proses karena perjuangan itu berlangsung atau berjalan secara dinamis dalam ruang dan waktu. Manusia, ruang, dan waktu tidak dapat dipisahkan. Setiap peristiwa sejarah (event) yang dialami manusia pada masa lampau berlangsung dalam ruang (space) dan waktu (time) tertentu.
Konsep waktu dalam sejarah mencakup empat hal pokok berikut ini :
1). Perkembangan.
Artinya suatu keadaan masyarakat dalam suatu periode tertentu dalam sejarah berkembang dari dan disebabkan oleh kondisi yang terjadi sebelumnya, tidak muncul begitu saja, atau berdiri sendiri. Dalam hal perkembangan, sejarah akan melihat dan mencatat peristiwa yang menunjukkan terjadinya perubahan dalam masyarakat dari satu bentuk ke bentuk yang lain, biasanya dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks.
2). Kesinambungan.
Artinya suatu kondisi terkadang tidak melahirkan kondisi baru, melainkan tetap diwariskan atau diteruskan karena dianggap baik oleh suatu masyarakat. Dengan kata lain, kondisi tersebut, misalnya praktik sosial tertentu, menunjukkan terjadinya kesinambungan (kontinuitas).
3). Pengulangan.
Artinya fenomena yang pernah terjadi sebelumnya terulang kembali pada sesudahnya dan masa sekarang. Jadi, pengulangan tidak berarti peristiwanya berulang, melainkan fenomena nya saja. Sebuah peristiwa sejarah itu unik, tidak dapat diulang atau hanya terjadi sekali, dan tidak ada lagi peristiwa lain yang sama persis dengan peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu. Inilah yang dimaksud pengulangan itu.
4). Perubahan.
Artinya masyarakat membentuk praktik yang baru dan berbeda sama sekali dengan praktik sebelumnya. Hal itu terjadi karena praktik lama dinilai tidak memadai lagi atau ketinggalan zaman untuk menunjang kemajuan dan tata kehidupan.
Konsep Kausalitas dalam Sejarah
Ada hubungan sebab-akibat (kausalitas) atau saling memengaruhi antara peristiwa sebelumnya dan peristiwa setelahnya/sesudahnya. Hubungan sebab-akibat dan saling memengaruhi itu dikaji perkembangannya dari waktu ke waktu. Ada dua jenis sebab-akibat terjadinya peristiwa yaitu sebab-akibat secara langsung dan sebab-akibat secara tidak langsung. Yang jelas peristiwa sejarah terjadi karena lebih dari satu sebab, entah langsung atau tidak langsung. Setiap faktor penyebab tidak berkontribusi secara setara atau sama terhadap terjadinya peristiwa itu.
Sejarah sebagai Ilmu
Menurut Kuntowijoyo, ciri-ciri sejarah sebagai ilmu itu adalah, sebagai berikut :
1). Sejarah itu mempunyai objek.
Kajian objeknya adalah kehidupan manusia pada masa lampau. Selain manusia, objeknya juga adalah waktu. Jadi sejarah, memiliki objek sendiri yang tak dimiliki ilmu lain secara khusus.
2). Sejarah itu empiris.
Empiris dalam bahasa yunani adalah empiria yang berarti pengalaman. Artinya sejarah bersandar pada pengalaman manusia yang sebenarnya entah pengalaman indrawi maupun pengalaman batiniah (kepercayaan, nilai, norma, etos, pandangan hidup, dll).
3). Sejarah mempunyai metode.
Artinya sejarah mempunyai metode tersendiri (metode sejarah) yang berfungsi sebagai panduan penilitian. Metode ini mempunyai lima tahapan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, yakni pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.
4). Sejarah mempunyai generalisasi.
Artinya generalisasi berasal dari bahasa inggris general, yang berarti umum. Dengan demikian, generalisasi berarti suatu kesimpulan yang bersifat umum atau menyeluruh terhadap suatu gejala atau informasi berdasarkan fakta atau data yang ada.
Selain sejarah sebagai ilmu, terdapat pula konsep yang lain, yaitu :
1). Sejarah sebagai Peristiwa.
Artinya adalah peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau. Namun, tidak semua peristiwa yang terjadi pada masa lampau dapat dikatakan sebagai peristiwa sejarah. Peristiwa yang telah terjadi di masa lampau baru dapat dikatakan sebagai peristiwa sejarah jika memiliki syarat-syarat tertentu, yaitu Objektif dan Penting.
a). Objektif : Bahwa peristiwa itu didukung oleh fakta sejarah yang dapat menunjukkan bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi, jadi bukan peristiwa rekaan atau hasil imajinasi.
b). Penting : Peristiwa yang terjadi itu mempunyai arti penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta terhadap kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
2). Sejarah sebagai Kisah.
Artinya sejarah sebagai kisah adalah kejadian masa lalu yang diungkapkan kembali berdasarkan penafsiran sejarawan yang dapat dipertanggungjawabkan.
3). Sejarah sebagai Seni.
Artinya sejarah sebagai seni mempunyai hubungan erat dengan cara penyampaian secara tertulis kisah sejarah itu. Sejarah memperlukan intuisi dan imajinasi, melibatkan emosi, serta menggunakan gaya bahasa yang khas.
Sifat Ilmu Sejarah
1). Diakronis.
Artinya melintasi perjalanan waktu. Ilmu sejarah itu diakronis, berarti topik yang dibahas didalamnya adalah peristiwa-peristiwa yang melintasi perjalanan waktu, yaitu dari masa dulu, sekarang, dan depan.
2). Idiografis.
Artinya bahwa sejarah selalu menggambarkan, menceritakan, dan memaparkan sesuatu yang bersifat unik, karena setiap peristiwa tidak dapat diulang atau terjadi hanya sekali, dan tidak ada peristiwa yang sama persis dengan peristiwa itu di tempat dan waktu yang berbeda.
3). Verifikatif
Artinya hasil penelitian dalam sejarah dapat diuji kebenarannya oleh siapa pun, terutama oleh orang yang memahami dengan baik peristiwa yang menjadi objek penelitian.
4). Empiris
Artinya sejarah bersandar pada pengalaman manusia yang sebenarnya entah pengalaman indrawi maupun pengalaman batiniah (kepercayaan, nilai, norma, etos, pandangan hidup, dll).
Manfaat Mempelajari Sejarah
Ungkapan-ungkapan orang besar pada zamannya tentang sejarah berikut ini :
1). Ir. Soekarno (Presiden Pertama Indonesia)
Ia mengatakan "Jangan sekali-kali melupakan sejarah karena bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat memahami sejarahnya sendiri. Sebab jika tidak, bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang kecil sehingga tidak mungkin menjadi bangsa yang besar" yang sekarang lebih dikenal dengan ungkapan "Jas Merah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah"
2). Winston Churchill (Mantan Perdana Menteri Inggris Semasa PD II)
Ia mengatakan "Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya"
3). Ibnu Khaldun (Filsuf Besar dari Arab)
Ia mengatakan "Dengan sejarah kita mengenal bangsa-bangsa terdahulu terutama segi moral politik para penguasa"
4). Cicero (Orator Zaman Romawi)
Ia mengatakan "Sejarah adalah guru kehidupan (Historia Magistra Vitae)"
Dengan demikian, mempelajari sejarah itu lebih dari sekedar mengetahui hal-hal yang terjadi pada masa lalu, apalagi menghafal peristiwa dan angka-angka belaka. Sejarah adalah guru kehidupan. Sejarah menjadi guru kehidupan karena sejarah mengandung pelajaran-pelajaran moral dan politik, sejarah membuat kita mengenal bangsa-bangsa lain secara lebih dekat, sejarah memperkokoh identitas kita sebagai bangsa, dan sejarah membantu kita berpikir holistik dan multiperspektif dalam memandang suatu peristiwa.









